MENINGKATKAN JIWA NASIONALISME PESERTA DIDIK MELALUI MAPEL B. INDONESIA. Oleh : Sarwono, S.Pd.

Diposting pada: 2018-11-21, oleh : Admin SMK, Kategori: Informasi Sekolah

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Cita-cita untuk memajukan pendidikan di Indonesia belum terbebas dari banyaknya masalah. Problem tersebut memicu dan mengimbas menurunnya citra dunia pendidikan itu sendiri. Para peserta didik sebagai output hasil pendidikan masih saja belum sepenuhnya sesuai harapan masyarakat. Fenomena gunung es ditampakkan dari kejadian yang tertangkap media saja seperti peristiwa tawuran, penyalahgunaan narkoba, perilaku sex bebas, pornografi, kriminalitas peserta didik terhadap guru, dan berbagai kenakalan peserta didik di sekolah dan di luar sekolah. Ini membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia masih sakit dan perlu pembenahan baik dari faktor peserta didik, pendidik, kurikulum, metodologi, unsur dukungan masyarakat, dan faktor-faktor lainnya.

Pengaruh globalisasi dan meningkatnya kecanggihan teknologi  informasi seperti internet telah membuka derasnya arus informasi yang tidak selalu bisa difilter/disaring oleh penggunanya. Segala budaya yang ada di luar Indonesia masuk tanpa kendali. Kapan pun, di manapun, dan oleh siapapun, kecepatan informasi itu dapat diakses. Kita tidak bisa menyalahkan teknologi, sebab teknologi tidak mengenali pemakainya.

Kebebasan penggunaan teknologi informasi seperti internet bisa diakses di mana saja baik personal komputer, laptop,  handphone, tablet, dan lain sebagainya. Ini merupakan jalan masuknya pengaruh negatif bagi para peserta didik yang integritas pribadinya belum stabil. Budaya asing dari negara luar yang tidak sesuai dengan karakter budaya Indonesia dengan bebas bisa dinikmati oleh peserta didik. Budaya yang bisa merendahkan karakter pribadi peserta didik kadang semakin diperparah dengan tidak adanya perhatian orang tua terhadap perilaku anaknya. Masyarakat juga terlalu permisif dengan berbagai kejadian yang melibatkan peserta didik di lingkungannya. Sebagai contoh, ada oknum peserta didik bergerombol di rumah sekitar sekolah demi menghindari mengikuti upacara, padahal di tempat tersebut hanya berselancar di dunia maya. Pembiaran atau kurangnya perhatian pada peristiwa yang dianggap sepele, bisa menimbulkan dampak lebih buruk pada akhirnya nanti.

Pembentengan karakter peserta didik dari sisi kurikulum dari masa ke masa sudah diupayakan, seperti pemberlakuan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, dan sekarang berubah lagi menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pendidikan Agama pun dijadikan benteng pertahanan pendidikan karakter, namun masih saja terdapat kasus-kasus yang tidak pantas. Seorang peserta didik di sekolah lanjutan karena ditegur tidur di kelas, akhirnya melakukan penganiayaan terhadap gurunya sampai meninggal. Kita juga bisa belajar dari kasus Steven yang telah mengoyak rasa nasionalisme. Seorang mahasiswa di Singapura asal Jakarta Barat ini, telah melaklukan penghinaan yang berbau SARA.  Ucapan kebencian terhadap Tuanku Guru Bajang, gubernur Nusa Tenggara Barat telah menambah deretan lemahnya karakter pemuda Indonesia.

Regulasi pemerintah untuk mengatasi penurun karakter peserta didik rupanya secara spesifik mulai dilakukan dengan keluarnya Permendikbud nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Pada pasal 5 ayat (4) disebutkan bahwa kegiatan kokurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembinaan seni dan budaya dan/atau bentuk lain untuk penguatan karakter peserta didik. Dari pasal ini terlihat sudah secara eksplisit ruang untuk menggarap karakter peserta didik. Namun rupanya, aturan ini terkesan masih belum operasional. Oleh karena itu, dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 lahirlah “Penguatan Pendidikan Karakter” yang disebut PPK.

Babak awal ini, menjadi momen sikap tegas operasionalisasi penanganan karakter peserta didik telah dimulai. Aturan hanyalah aturan. Di tingkat satuan pendidikan biasanya terjadi deley atau keterlambatan implementasi. Ada satuan pendidikan yang proaktif langsung menerapkan, ada pula yang sama sekali belum mengimplementasikannya. Cara-cara lama masih dipertahankan. Yang sangat mengherankan justru ketika sudah ada PPK ini, fenomena yang sangat tidak pantas dari karakter peserta didik muncul, seperti kasus kriminalitas terhadap guru dan ujaran kebencian yang berbau SARA  yang merendahkan jiwa nasionalisme.

Apakah peran mata pelajaran bahasa Indonesia dalam peningkatan karakter peserta didik sudah memiliki dasar? Perpres No. 87 tahun 2017 telah menjawab melelui pasal 6 ayat (1) Penyelenggaraan PPK pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf a angka 1 dilakukan serara terintegrasi dalam kegiatan a. Interakurikuler, b. Kokurikuler, c. Ekstrakurikuler. Selanjutnya dalam pasal 7 ayat (1) memberikan ketegasan bahwa penyelenggaraan PPK dalam kegiatan Interakurikuler merupakan penguatan nilai-nilai karakter melalui kegiatan penguatan materi pembelajaran, metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

 

  1. Rumusan Masalah

Bersasarkan uraian latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 

  1. Apa saja kegiatan peserta didik dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk meningkatkan peningkatann karakter jiwa nasionalisme?
  2. Bagaimana strategi peningkatan karakter jiwa nasionalisme peserta didik melalui mata pelajaran bahasa Indonesia?
  1. Tujuan

Tujuan penulisan artikel ini meliputi :

  1. Untuk mengetahui apa saja kegiatan peserta didik dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk meningkatkan peningkatann karakter jiwa nasionalisme?
  2. Untuk mengetahui bagaimana strategi peningkatan karakter jiwa nasionalisme peserta didik melalui mata pelajaran bahasa Indonesia?
  1. Manfaat
  1. Manfaat bagi Peserta Didik
  1. Peserta didik terbimbing dan terarahkan sesuai dengan problematika yang dihadapi.
  2. Peserta didik di satuan pendidikan dapat semakin ditingkatkan karakter jiwa nasionalismenya.
  1. Manfaat bagi Guru
  1. Guru dapat memahami setiap teknik yang diguanakan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme.
  2. Guru dapat terbantu dalam penyelesaian problematika peserta didik terkait peningkatan karakter jiwa nasionalisme.
  1. Manfaat bagi Satuan Pendidikan dan Masyarakat
  1. Satuan pendidikan dan masyarakat dapat terbantu oleh guru bahasa Indonesia terkait penanganan kasus lemahnya jiwa nasionalisme.
  2. Satuan pendidikan dapat meningkatkan karakter peserta didik pada nilai jiwa nasionalisme.

 

BAB II KAJIAN TEORI

  1. Pendidikan Karakter

Sebelum dijelaskan pengertian pendidikan karakter akan diuraikan terlebih dahulu makna karakter baik secara etimologi maupun secara terminologi. Secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa Latin kharacter atau bahasa Yunani kharassein yang berarti memberi tanda (to mark), atau bahasa Perancis caracter, yang berarti membuat tajam atau membuat dalam (Majid dan Andayani, 2012:11). Dalam bahasa Inggris character, memiliki arti watak, karakter, sifat, peran, dan huruf (Echols dan Shadily, 2003:110). Karakter juga diberi arti a distintive differenting mark (tanda atau sifat yang membedakan seseorang dari yang lain) (Manser, 2005:218). Dalam KBBI (2004) karakter diartikan sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak.

Sedangkan secara etimologis, para ahli mendefinisikan karakter dengan redaksi yang berbeda-beda. Endang Sumantri (2009) menyatakan, karakter adalah suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang sehingga membuatnya menarik dan atraktif, seseorang yang unusual atau memilikii kepribadian eksentrik. Deni Koesoema (2010 : 80) memahami karakter sama dengan kepribadian, yaitu ciri atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil.

Sejalan dengan pendapat tersebut, E. Mulyasa (2012 : 3-4) merumuskan karakter dengan sifat alami seseorang dalam merespon siatuasi yang diwujudkan dalam perilakunya. Karakter juga bisa diartikan sebagai totalitas ciri-ciri pribadi yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik, dalam arti secara khusus ciri-ciri ini membedakan antara satu individu dengan yang lainnya, dan karena ciri-ciri karakter tersebut dapat diidentifikasi pada perilaku individu dan bersifat unik, maka karakter sangat dekat dengan kepribadian individu.

Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia,  lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika (Samani & Hariyanto, 2013 : 41-42).  Karakter tersusun dari tiga bagian yang saling berhubungan, yakni : moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral behavior (perilaku moral). Karakter yang baik terdiri pengetahuan tentang kebaikan (knowing the good), keinginan terhadap kebaikan (desiring the good), dan berbuat kebaikan (doing the good). Dalam hal ini, diperlukan pembiasaan dalam pemikiran (habits of the mind), dan pembiasaan dalam tindakan (habit of the action) (Zubaedi, 2011 : 13).

Berdasarkan penjelasan para ahli di atas dapat ditarik simpulan bahwa karekter adalah sifat yang mantap, stabil, dan khusus melekat dalam diri seseorang yang membuatnya bersikap dan bertindak secara otomatis, tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan, dan tanpa memerlukan pemikiran/pertimbangan terlebih dahulu. Pengertian karakter seperti ini sama dengan definisi ahlak dalam Islam, yaitu perbuatan yang telah menyatu dalam jiwa/diri seseorang atau spontanitas manusia dalam bersikap, sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.

Dari konsep karakter di atas, kemudian muncul istilah pendidikan karakter (character education). Terminologi pendidikan karakter mulai dikenalkan sejak tahun 1990-an.  Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya, terutama ketika ia menulis buku yang berjudul The return for Character Education, kemudian disusul bukunya Educating for Character : How Our School Can Teach Respect and Responsibility (1991). Melalui buku-buku itu, ia menyadarkan dunia Barat akan pentingnya pendidikan karakter.

Sedangkan di Indonesia, istilah pendidikan karakter mulai dikenalkan sekitar tahun 2000-an. Hal itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJM) tahun 2005 – 2025, yang menempatkan pendidikan karakter sebagai landasan mewujudkan misi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat yang berahlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

Definisi pendidikan karakter yang lebih lengkap dikemukakan oleh Thomas Lickona sebagai pencetusnya. Menurut Lockona (1992: 80), pendidikan karakter adalah upaya untuk membentuk/mengukir kepribadian manusia melalui proses knowing the good (mengetahui kebaikan), loving the good (mencintai kebaikan), dan acting the good (melakukan kebaikan), yaitu proses pendidikan yang melibatkan tiga ranah : pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling/moral loving), dan tindakan moral (moral acting/moral doing), sehingga perbuatan itu mulia bisa terukir menjadi habit of mind, heart and hands. Tanpa melibatkan ketiga ranah tersebut pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif.

  1. Jiwa Nasionalisme

Nasionalisme telah menjadi jiwa bangsa sebelum Indonesia merdeka sampai dengan abad XXI ini. Namun, berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa jiwa nasionalisme orang Indonesia mulai luntur, berbeda dengan situasi ketika tahun-tahun menjelang kemerdekaan.

Ada beberapa definisi nasionalisme menurut beberapa sumber. Sarman (1995) nasionlisme diartikan sebagai kecintaan terhadap tanah air tanpa reserve, yang merupakan simbol patriotisme heroik semata sebagai bentuk perjuangan yang seolah-olah menghalalkan segala cara demi negara yang dicintai. Definisi ini menyebabkan makna nasionalisme menjadi usang dan tidak relevan dengan persoalan masa kini.

Menurut Hara (2000), nasionalisme mencakup konteks yang lebih luas yaitu persamaan keanggotaan dan kewarganegaraan dari semua kelompok etnis dan budaya dalam suatu bangsa. Dalam kerangka nasionalisme, juga diperlukan sebuah kebanggaan untuk menampilkan identitasnya sebagai suatu bangsa. Kebanggaan itu sendiri merupakan suatu proses karena dipelajari dan bukan warisan yang turun-temurun dari suatu generasi berikutmya.

Nasionalisme dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencintai bangsa dan negara. Mulyana (dalam Martinah, 1990) mendefinisikan nasionalisme dengan kesadaran bernegara atau semangat nasional. Nasionalisme atau kebangsaan bukan sekedar instrumen yang berfungsi sebagai perekat kemajemukan secara eksternal, namun merupakan wadah yang menegaskan identitas Indonesia yang bersifat plural dalam berbagai dimensi kulturalnya. Nasionalisme menuntut adanya perwujudan nilai-nilai dasar yang berorientasi kepada kepentingan bersama dan menghindarkan segala legalisasi kepentingan pribadi yang merusak tatanan kehidupan bersama.

Sebagai suatu bangsa hanya dapat muncul apabila terdapat keinginan untuk hidup bersama, adanya jiwa dan pendirian rohaniah, adanya perasaan setia kawan yang besar yang terbentuk bukan disebabkan persamaan ras, bangsa, agama atau batas-batas negeri, melainkan terbentuk karena pengalaman-pengalaman historis yang menjembatani kesediaan untuk berkorban bersama. Suatu bangsa adalah sekelompok manusia dengan persamaan karakter atau watak yang tumbuh karena persamaan nasib atau pengalaman yang telah dijalani. Nasionalisme merupakan suatu kesadaran atau keinsyafan rakyat sebagai suatu bangsa. Stoddart menegaskan bahwa nasionalisme merupakan keyakinan yang teguh sejumlah besar orang yang merupakan suatu nasionalitas (Abdulgani, 1964).

  1. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran di sekolah tidak bisa dipungkiri perannya sebagai penghela ilmu pengetahuan termasuk sebagai alat tercapainya jiwa nasionalisme. Sejak Sumpah Pemuda 1928 saja, rasa nasionalisme telah menjadi jiwa yang mempersatukan bangsa Indonesia. Dilanjutkan pada tahun 1945, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.

Salah satu strategi negara adalah terwujudnya penguatan bahasa persatuan bahasa Indonesia. Implementasinya adalah berlangsungnya mata pelajaran  di tiap satuan pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Walaupun telah terjadi beberapa periode perubahan kurikulum, peran pelajaran bahasa Indonesia tetap penting. Saat ini kurikulum yang berlaku adalah Kurikulum 2013 dengan pembelajaran berbasis teks. Hal ini  bertujuan agar dapat membawa peserta didik sesuai dengan perkembangan mentalnya, dan menyelesaikan masalah kehidupan nyata dengan berpikir kritis. Dalam penerapannya, pembelajaran bahasa Indonesia memiliki beberapa prinsip, yaitu sebagai berikut : (1) bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasan, (2) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna, (3) bahasa bersifat fungsional, artinya penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dipisahkan dari konteks, karena bentuk bahasa yang digunakan mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi pemakai/penggunanya, (4) bahasa merupakan sarana pembentukan berpikir manusia(Kemdikbud, 2013).

BAB III PEMBAHASAN

  1. Peningkatan Karakter Jiwa Nasionalisme melalui Pelajaran Bahasa Indonesia

Pertanyaan, “Apa saja kegiatan peserta didik dalam mata pelajaran bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan karakter jiwa nasionalisme?”, dapat ditempuh melalui dua sisi yaitu materi (konten) dan metodologi (strategi). Dari sisi materi pembelajaran bahasa Indonesia Kurikulum 2013 menggunakan basis teks. Berbagai teks yang diajarkan sesuai dengan jenjang pada tiap satuan pendidikan. Pengembangan dan pendalaman terhadap teks-teks yang diajarkan pada peserta didik disesuaikan dengan tujuan atau fungsi sosial teks, struktur teks, dan ciri-ciri kebahasan teks tersebut.

Ada beberapa materi yang selaras dan dapat diintegrasikan pada saat pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun materi atau konten tersebut antara lain : (1) Mengikrarkan Teks Sumpah Pemuda; (2) Membaca UUD 1945 dan Pancasila; (3) Memparafrasakan lagu Indonesia raya menjadi prosa; (4) Menyusun skenario drama dengan tema nasionalisme; (5) Menyusun anekdot yang bertema nasionalisme; (6) Menganalisis karya cerpen atau novel yang bertema nasionalisme; (7) Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar; (8) Membuat paragraf atau karangan dengan materi yang mengandung sejarah nasionalisme.

Kedelapan materi ini sesuai dengan karakteristik materinya jelas dapat dipakai sebagai alternatif penanaman karakter jiwa nasionalisme peserta didik. Sesuai dengan kurikulum 2013, poin 1, 2, dan 3 sejalan dengan mata  pelajaran bahasa Indonesia pada aspek membaca dan menulis. Poin 4, 5, 6 sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran bahasa Indonesia tingkat SLTA, sedangkan poin 7 dan 8 sejalan dengan pembalajaran kaidah kebahasaan Kurikulum 2013.

Terkait poin 1, penulis berpendapat bahwa tidak semua peserta didik hafal dengan teks Sumpah Pemuda. Apabila kondisi ini, seperti demikian, bagaimana internalisasi jiwa nasionalisme dapat ditanamkan kepada peserta didik? Inilah yang menjadi latar belakang mengapa teks Sumpah Pemuda dapat sebagai sarana menanamkan jiwa nasionalisme. Poin 2, membaca Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila merupakan rutinitas yang dilakukan pada saat upacara. Tidak jarang terjadi pembaca Undang-undang, lalai dalam membacanya. Adakalanya petuga salah dalam membaca, salah ucap atau salah dalam pemenggalan kata. Saat pembacaan Pancasila, peserta hanya diwajibkan menirukan. Walaupun hanya diwajibkan menirukan peserta didik seharusnya hafal dengan bunyi Pancasila, sebab Pancasila merupakan ideologi bangsa.

Banyaknya penyimpangan karakter peserta didik saat ini di antaranya karena mereka kurang menyadari pentingnya ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Undang-undang Dasar 1945 yang di dalamnya memuat Pancasila, biasanya dibacakan oleh pesera didik yang dianggap mampu membaca dengan baik. Dengan demikian kemampuan membaca Undang-undang sangat erat kaitannya dengan penerapan nilai-nilai jiwa nasionalisme.

Poin 3 sampai dengan 8, membuat parafrasa, menyusun skenario, menyusun anekdot, menganalisis karya cerpen dan novel, menggunakan bahasa dengan baik dan benar, serta menyusun paragraf merupakan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Yang membedakannya adalah ketika Kompetensi Dasar ini akan dimuati dengan nilai-nilai karakter jiwa nasionalisme. Guru hanya tinggal menyesuaikan karakter nilai apa yang akan dibawa ke dalam materi itu. Bila dirasa nilai karakter jiwa nasionalisme sangat kurang pada peserta didik pada satuan pendidikan, sarana KD tersebut sangat fleksibel untuk digunakan.

  1. Strategi Peningkatan Karakter Jiwa Nasionalisme Peserta Didik melalui Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Pada jenjang SD dan SMP, pengajaran membaca Ikrar Sumpah Pemuda, Pancasila, dan Undang-undang Dasar 1945 menurut hemat penulis dapat sebagai media menanamkan karakter jiwa nasionalisme peserta didik. Adapun strategi ata cara yang bisa dilakukan  antara lain, dengan : 1) mengintergrasikan pembelajaran keterampilan membaca teknik khsusunya materi membaca Ikrar Sumpah Pemuda, Pancasila, dan Undang-undang Dasar 1945; 2) menjadikan materi tersebut sebagai bentuk penugasan kepada peserta didk. Tujuan pembelajaran pada jenjang ini, pertama, untuk meningkatkan kemampuan membaca nyaring, kedua untuk menemukan nilai-nilai yang ada pada Ikrar Sumpah Pemuda, Pancasila, dan Undang-undang Dasar 1945. Alasannya, masih banyak peserta didik pada jenjang ini tidak bisa membaca nyaring sesuai dengan harapan, sehingga ketika ada pemilihan petugas pembaca produk sejarah itu, guru memilih peserta didik yang membaca nyarinya di atas kemampuan teman-teman yang lain. Kedua, teks Ikrar Sumpah Pemuda, Pancasila, dan UUD 1945 merupakan teks bersejarah yang mengandung nilai-nilai karakter jiwa nasionalisme.

Pada jenjang SMA/SMK, pemilihan materi di atas dapat diterapkan sebagai bagian dari pengayaan pada Kompetensi Dasar (KD) yang relevan. Misalnya pada KD ceramah, bila  peserta didik sudah mencapai ketuntasan, guru bisa menambahkan Teks Ikrar Sumpah Pemuda, Pancasila, atau UUD 1945 sebagai bahan untuk pengayaan KD dan untuk menunjang penumbuhan karakter jiwa nasionalisme peserta didik. Strategi kedua pada jenjang ini, ketiga teks tersebut dapat dipakai sebagai ice breaking, pada saat tertentu ketika peserta didik jenuh atau sebagai alat untuk memberikan hukuman yang mendidik, pada saat peserta didik melakukan pelanggaran ringan. Sebagai contoh siswa yang ngantuk di kelas, guru bisa memberikan hukuman kepada peserta didik untuk membacakan Pancasila secara nyaring dengan intonasi yang benar. Ganjaran ini juga bisa diterapkan untuk jenis-jenis pelanggaran ringan yang lain.

Karya sastra yang umum dimuati dengan tema nasionalisme adalah puisi, cerpen,  dan novel sejalan dengan perkembangan dunia sastra dari masa ke masa. Contoh karya-karya tersebut antara lain, untuk puisi seperti “Tanah Air”, karya Amir Hamzah, “Diponegoro”, karya Chairil Anwar. Karya novel, “Keluarga Gerilya”, karya Pramudia Anantatur, juga ada novel sebelumnya karya Sutan Takdir Alisahbana(STA) yang berjudul “Layar Terkembang”.

Materi drama, anekdot, dan cerpen secara eksplisit muncul di KD silabus Kurikulum 2013. Demi kepentingan penekanan penanaman jiwa nasionalisme guru bisa memasukan tema-tema karakter jiwa nasionalisme pada materi tersebut. Strategi guru dalam menanamkan karakter jiwa nasionalisme dilakukan dengan menyediakan dan memilih karya-karya yang bertema jiwa nasionalisme. Tugas guru harus kreatif menyajikan contoh-contoh judul naskah atau teks drama dan cerpen yang bertema jiwa nasionalisme. Ada beberapa contoh naskah drama yang mengandung nilai-nilai karaker jiwa nasionalisme, seperti: “Domba-Domba Revolusi”, karya B. Sularto, “Bung Besar”, karya Misbach Yusa Biran, “Bunga Rumah Makan”, karya utuy Tatang Sontani, dan lain-lain.

Penanaman nilai karakter jiwa nasionalisme dilakukan guru antara lain dengan menugaskan peserta didik menganalisis nilai-nilai karakter jiwa nasionalisme pada karya yang disajikan guru. Jika dimungkinkan peserta diberi tugas untuk memerankan karakter tokoh-tokoh dalam naskah drama untuk menghayati karakter jiwa nasionlisme.

Pada penanaman nilai karakter jiwa nasionalisme melalui karya cerpen guru bisa menyediakan beberapa judul yang terdapat nilai-nilai tersebut, seperti “Ajaran Kehidupan Seorang Nenek”, karya NH Dini, “Hipnotis”, karya Euis Sulastri, “Kereta Raksasa”, karya Dasimo Rahardiyanto. Teknik penanaman jiwa nasionalisme oleh guru diterapkan dengan memberikan tugas kepada peserta didik untuk menganalisis jiwa nasionalisme pada cerpen tersebut. Selanjutnya peserta didik diwajibkan untuk mempresentasikan hasil tugas tersebut di depan teman-teman di kelas. Tugas ini bisa dilakukan secara berkelompok.

Anekdot dalam pembelajaran bahasa Indonesia hadir bersamaan dengan hadirnya kurikulum 2013 bahasa Indonesia. Bagi peserta didik dan guru, materi ini dianggap baru. Namun demikian sesunguhnya materi ini sudah lama ada dalam kehidupan tulis menulis. Karena materi anekdot  adalah materi dalam KD tersendiri, guru bisa lebih leluasa menggunakan waktu pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai karakter jiwa nasionalisme. Setelah peserta didik menguasai materi struktur teks dan mengenal berbagai contoh teks anekdot, guru bisa menugaskan peserta didik untuk menyusun anekdot yang mengandung nilai karakter jiwa nasionalisme.

Poin 7 dan 8, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, serta menyusun paragraf dengan tema jiwa nasionalisme dalam teknik pembelajaran dapat diintegrasikan. Tugas kepada peserta didik pada mulanya menyusun paragraf dengan tema nasionalisme dengan syarat menggunakan kalimat yang baik dan benar. Selanjutnya hasil paragraf yang telah disusun dipresentasikan di hadapan teman-teman. Tugas ini sebaiknya diberikan secara individu, sebab keterampilan menyusun kalimat yang baik dan benar seharusnya dimiliki oleh seseorang secara pribadi. Pada saat presentasi teman lain diwajibkan untuk mengkritisi hasil tugas teman-teman.

Khusus masalah parafrasa karena tidak secara eksplisit terdapat dalam Kurikulum 2013, guru bisa mengajak peserta didik untuk mengapresiasi syair lagu Indonesia Raya. Parafrasa juga bisa digunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis peserta didik. Dengan bimbingan guru peserta didik dilatih merangkai syair lagu Indonesia Raya menjadi prosa.

BAB IV SIMPULAN

Menurunnya nilai-nilai karakter pada umumnya dan nilai jiwa nasionalisme pada khususnya mendorong penulis memberikan alternatif solusi penanaman nilai karakter pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Pada pembelajaran sastra, dalam bahasa Indonesia sudah lama diakui turut membantu jiwa karakter peserta didik. Penulis memilih beberapa materi saja yang relevan dapat diterapkan oleh guru bahasa Indonesia untuk menanamkan karakter jiwa nasionalisme.

Ada beberapa materi atau kompetensi yang bisa dijadikan solusi menanamkan nilai karakter jiwa nasionalisme, antara lain : (1) Mengikrarkan Teks Sumpah Pemuda; (2) Membaca UUD 1945 dan Pancasila; (3) Memparafrasakan lagu Indonesia raya menjadi prosa; (4) Menyusun skenario drama dengan tema nasionalisme; (5) Menyusun anekdot yang bertema nasionalisme; (6) Menganalisis karya cerpen atau novel yang bertema nasionalisme; (7) Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar; (8) Membuat paragraf atau karangan dengan materi yang mengandung sejarah nasionalisme.

Bagaimana strategi pengajaran yang bisa ditempuh? Pada jenjang Sekolah Dasar dan SMP, penanaman karakter jiwa nasionalisme dapat dilakukan dengan mengintegrasikan pembelajaran membaca teknik/nyaring. Pada jenjang SLTA strategi penanaman karakter jiwa nasionalisme dilakukan dengan menyediakan karya-karya yang relevan isinya dengan jiwa nasionalisme, baik karya cerpen, novel, ataupun drama. Untuk materi-materi yang relatif baru guru harus memberikan pemahaman terhadap materi pada struktur teksnya dulu selanjutnya menyusun teks anekdot denan tema jiwa nasionalisme.

Penguasaan penggunaan paragraf dengan kalimat yang baik dan benar dapat diintegrasikan dengan tema jiwa nasionalisme sebagai ruang lingkup tugas kepada peserta didik.

 

 

 
 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agusrida. Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 : Sebuah Kajian dalam Mata Diklat Penerapan Kurikulum 2013. Balai Diklat Keagamaan Padang. http://bdkpadang.kemenag.go.id/index.php?

http://wartakota.tribunnews.com/2017/04/14/rasisme-steven-terhadap-gubernur-ntb-harus-diadili-tanpa-harus-dilaporkan

Kemdibud, 2013. Buku Guru Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta : Politeknik Negeri Media Kreatif.

Kusumawardani, Anggraeni dkk. 2004. Nasionalisme. Buletin Psikologi, Tahun XII, No. 2 Desember 2004. ISSN : 0854 -7108

Mulyasa, E. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta : Bumi Aksara.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Ramdani, Muhammad Ali. 2014. Lingkungan Pendidikan dalam Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Universitas Garut. ISSN : 1907-932X. Vol. 08: 2014 : 28 -37.

Septianingsih, Lustiantini. 2009. Tema Nasionalisme dalam Pembelajaran Sastra : Upaya Menumbuhkan Semangat Kebangsaan. Pusat Bahasa Kemendiknas RI Vol. 34 No. 2 Juli 2010.

Syarbini, Amirullaoh. 2013. Model Pendidikan Karakter dalam Keluarga. Jakarta : PT Gramedia.

 

 

 

BIODATA PENULIS

 Nama              : Sarwono, S.Pd.

NIP     : 196910082008011012

Pangkat/Gol    : Penata/IIIc

Unit Kerja       : SMK Negeri 1 Purwojati

Email               : sarwonompd1@gmail.com

No. HP.                       : 08112610336

Pendidikan      : S2 (penggunaan gelar menunggu hasil ujian peningkatan pendidikan S2 dari BKD Provinsi Jawa tengah)

Makalah ini telah dipresentasikan di hadapan Tim Penilai Ujian Peningkatan Pendidikan S2 dari BKD Provinsi Jawa Tengah pada hari Rabu, 10 Oktober 2018. Ketua Tim menyatakan sependapat dengan materi yang disajikan dalam makalah.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
URL  
masukkan tanpa http:// contoh :www.mrmung.com
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini